RESUME Ke-19
Tema : Diksi dan Seni Bahasa
Narasumber : Maydearly
Moderator : Mutmainah, M.Pd
Malam ini tepatnya pertemuan ke-19, kembali ke aktivitas KBMN, bergabung di komunitas guru penulis, dikatakan komunitas guru penulis karena berisi guru yang semangat untuk menulis. Tema nya malam ini adalah “Diksi dan Seni Bahasa”, materi ini disampaikan oleh Bu Maydearly, saya rasa ini bukan nama sebenarnya, tapi ibunya Bercadar, tidak apa-apa, yang penting ilmunya keren dan berisi, moderator kegiatan malam ini adalah bu Mutmainah.
Penjelasan ibu Maydearly,
Berdasarkan KBBI, Diksi adalah pilihan kata yang tepat serta selaras dan bertujuan agar pembaca dapat memahami teks dalam tulisan. Diksi ibarat ruh kata kata sehingga kalimat yang disampaikan lebih bermakna. Dengan Diksi, kita akan lebih merasakan warna dan rasa untuk setiap kalimat.
Sejarahwan Yunani bernama Aristoteles memperkenalkan Diksi untuk menulis puisi. Kini, berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, maka Diksi berkembang tidak hanya pada puisi tapi juga digunakan untuk memperindah bahasa sebagai padanan kata agar lebih terasa maknanya.
Dalam diksi, kata-kata dipilih dengan cermat dengan tujuan memperkaya pengalaman baca tetapi yang lebih mendalam, sehingga menghasilkan tulisan kreatif. Untuk mencapai keindahan diksi, penulis perlu memperhatikan konteks penggunaan kata-kata, pemilihan kosakata yang sesuai dengan nada atau suasana yang diinginkan, serta kemampuan untuk menggambarkan atau menggambarkan dengan cara yang unik dan menarik.
Diksi lebih tentang logika sehingga melahirkan rasa. Maka kehadiran jiwa penting dihadirkan didalam sebuah tulisan maka akan semakin mudah merangkai diksi yang indah. Siapa yang tidak kenal kisah Romeo dan Juliet ?. Kisah ini adalah hasil karya dari Willian shakespiere, salah satu tokoh yang ahli dalam membuat diksi sehingga menghasilkan kisah drama epic terkenal dunia.
Bagaiamana membuat Diksi sehingga menghasilkan tulisan yang indah, Berikut beberapa tips dari Ibu Maydearly yang bisa dipraktekkan. Antara lain :
Tips Pertama
Sense of touch atau indera sentuhan dapat berperan penting dalam mengembangkan diksi, terutama dalam menggambarkan atau menjelaskan pengalaman fisik atau emosional. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of touch dapat membantu dalam pengembangan diksi:
-
-
- Deskripsi Fisik: Menggunakan kata-kata yang merujuk pada sensasi fisik yang dirasakan oleh karakter atau objek dalam cerita. Misalnya, “rasa kasar batu yang menggores telapak tangan” atau “kelembutan bulu halus yang menyentuh pipi”.
- Ekspresi Emosi: Mendeskripsikan bagaimana indera sentuhan mempengaruhi suasana hati atau emosi seseorang. Contohnya, “rasa dingin membelai kulitnya membuatnya merasa kesepian” atau “kehangatan pelukan memenuhi hatinya dengan kedamaian.
- Nuansa dan Atmosfer: Menggunakan sensasi sentuhan untuk membangun nuansa atau atmosfer dalam sebuah setting. Misalnya, “angin sepoi-sepoi menyentuh kulit mereka dengan lembut di tepi pantai yang sunyi” atau “hujan deras yang membasahi bumi dengan kelembutan”.
- Metafora dan Personifikasi: Menggunakan sentuhan secara metaforis untuk menggambarkan pengalaman atau objek secara lebih mendalam. Contohnya, “sinar matahari merayap seperti jemari emas yang membelai tanah gersang” atau “suara angin di pepohonan menggelembung seperti suara tawa anak-anak yang bermain.”
-
Tips Kedua
Sense of smell atau indera penciuman adalah elemen penting dalam berdiksi karena dapat menambah kedalaman dan kehidupan dalam deskripsi pengalaman atau suasana. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of smell dapat digunakan dalam berdiksi:
-
-
- Deskripsi Lingkungan: Menggunakan aroma untuk menggambarkan lokasi atau lingkungan dengan lebih jelas. Contohnya, “aroma bunga melati yang menyegarkan memenuhi udara di taman itu” atau “bau tanah basah setelah hujan turun sepanjang malam.”
- Karakterisasi: Menambahkan aroma untuk menggambarkan karakter atau suasana hati. Misalnya, “parfum mewah yang menguar dari lehernya menunjukkan keanggunan dan kepercayaan dirinya” atau “bau rokok dan alkohol yang menusuk hidung menggambarkan gaya hidupnya yang kasar.”
- Memori dan Emosi: Menggunakan aroma untuk memicu memori atau mengekspresikan emosi karakter. Contohnya, “aroma kue mangga yang manis membawa kenangan masa kecilnya yang bahagia” atau “bau bensin yang tajam memicu kecemasan dalam dirinya.”
- Metafora dan Simbolisme: Menggunakan aroma secara metaforis untuk menggambarkan suasana atau konsep. Misalnya, “bau kemarahan yang menyengat terasa di udara” atau “aroma kebohongan yang terasa menyengat di ruang rapat itu.”
-
Tips Ketiga
Sense of taste atau indera perasa, juga dapat digunakan dengan efektif dalam berdiksi untuk memperkaya pengalaman pembaca dengan sensasi-sensasi yang berkaitan dengan rasa. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of taste dapat dimanfaatkan dalam berdiksi:
-
-
- Deskripsi Makanan dan Minuman: Menggunakan rasa untuk menggambarkan makanan atau minuman dengan lebih jelas. Contohnya, “rasa manis dari cokelat leleh mengalir di lidahnya” atau “rasa pedas dari sambal yang membara memenuhi seluruh mulutnya.”
- Ekspresi Emosi atau Perasaan: Menggunakan rasa untuk mengekspresikan emosi atau perasaan karakter. Misalnya, “rasa getir kecewa yang seperti pahit di ujung lidahnya” atau “rasa gembira yang segar seperti buah-buahan tropis yang manis.”
-
Tips Keempat
Sense of jurnalisme merujuk pada cara penggunaan diksi yang khas dalam konteks jurnalisme untuk menyampaikan berita atau cerita dengan cara yang informatif, jelas, dan terkadang juga memikat.
Tips Kelima
Sense of hearing atau indera pendengaran dapat diterapkan secara efektif dalam berdiksi untuk menciptakan pengalaman auditori yang kuat dalam tulisan. Berikut beberapa cara menggunakan sense of hearing dalam berdiksi:
-
-
- Deskripsi Suara: Menggunakan kata-kata untuk menggambarkan berbagai jenis suara dengan detail. Misalnya, “derap langkah kaki yang cepat di lorong yang sepi” atau “gemerisik daun kering yang disapu angin.”
- Atmosfer dan Nuansa: Suara dapat digunakan untuk membangun atmosfer atau nuansa tertentu dalam sebuah setting. Contohnya, “gemuruh petir yang menggetarkan jendela” untuk menciptakan ketegangan atau “suara riuh kerumunan yang memenuhi pasar pagi.”
- Ekspresi Emosi: Suara juga dapat mengekspresikan emosi atau perasaan. Misalnya, “senandung riang anak-anak yang bermain di halaman sekolah” atau “ratapan sedih yang terdengar di ruang tengah rumah duka.”
- Simbolisme dan Metafora: Suara dapat digunakan secara metaforis untuk menyampaikan makna yang lebih dalam. Contohnya, “suara jangkrik malam yang menyiratkan kesepian di hatinya” atau “nyanyian angin yang membawa berita baik.”
-
Dari pemaparan materi yang disampaikan oleh narasumber, kunci dalam menghasilkan tulisan indah nan bermakna itu, seorang penulis harus menghadirkan rasa dan jiwa, dengan cara mempertajam kepekaan segala indera, keterampilan menghasilkan diksi dan bahasa lahir dari banyak membaca karya orang lain. Di situ kita bisa belajar berbagai macam bentuk padanan kalimat dari penulis penulis yang sudah menghasilkan karyanya. Ternyata menulis bukan hanya sekedar menyampaikan informasi dan wawasan. Tapi didalamnya ada seni kata kata yang mengandung makna dan nilai kebaikan yang diberikan untuk para pembaca. Membaca dan menulislah !
Salam Literasi : Recky Aprialmi,S.Pd.,M.Pd