Kiat Menulis Fiksi

RESUME Ke-11

 

Tema                      : Kiat Menulis Cerita Fiksi
Narasumber    : Sudomo,S.Pt
Moderator         : Ahmad Sholeh,S.Pd.Gr

Sesibuk apapun dengan pekerjaan kita, ternyata pertemuan KBMN Angkatan 31 sudah masuk pertemuan ke 11. Cek dan ricek di website saya pribadi, ternyata sudah banyak materi berbagai tema dipelajari dan sudah dibuat resumenya, ini salah satu syarat ikut KBMN yaitu rajin membuat resume. Tujuan yang positif salah satunya adalah rajin untuk menyimak dan rajin untuk menulis akhirnya terbiasa menulis sebagai kebutuhan. Luar biasa group ini. Semoga saja peserta KBMN termasuk saya bisa melahirkan karya. InsyaAllah !

Baik, malam ini materinya tentang “Kiat Menulis Cerita Fiksi” dengan narasumber Bapak Sudomo,S.Pt. Beliau adalah guru IPA latar belakang pendidikan Sarjana Peternakan. Dalam pikiran saya bapak ini daya imajinasi nya tinggi. Benar saja, pak narsum langsung melempar pertanyaan dalam group.

Apa alasan Bapak/Ibu ingin belajar menulis cerita fiksi? Ternyata jawaban semua hampir sama, yaitu :

Menulis fiksi karena memiliki daya imajinasi yang tinggi, menghayal yang luar bisas, memperdalam pengetahuan tentang dunia fiksi. Menambah percaya diri serta mengembangkan keterampilan menulis berjenis fiksi, pengembangan pola pikir seseorang

Menurut narsum, resume pun bisa dibuat dalam bentuk fiksi, salah satu contoh yang sudah dibuat pak sudarmono. Fiksi tentang tema pesawat dalam pembelajaran IPA, bisa dilihat di : https://play.google.com/store/books/details/Sudomo_S_Pt_Bermain_Sambil_Belajar?id=1R9_EAAAQBAJ

A. Mengapa Kita Belajar Menulis Fiksi

      1. Penguatan Literasi, salah satu aspek AKM yang dilakukan dalam Kurikulum Merdeka, guru memiliki keterampilan menulis soal dalam bentuk teksi fiksi
      2. Salah satu bentuk menemukan passion dalam menulis fiksi
      3. Untuk proses healing diri, banyak penelitian menjelaskan seseorang ketika menulis bisa menjadi terapi menyembuhkan diri
      4. Mengekploirasi kemampuan menulis
  1.  B. Syarat menulis fiksi
      1. Memiliki kemauan dan komitmen yang kuat
      2. Kemamuan dan kemampuan melakukan riset
      3. Banyak membaca cerita fiksi
      4. Mempelajari KBBI dan PUEBI
      5. Memamahi dasar dasar menulis fiksi
      6. Menjaga konsistensi menulis
  2.  C. Bentuk Cerita Fiksi
      1. Fiksimini dengan ciri khas beberapa kata
      2. Flash Fiction dengan ciri khas jumlah kata khusus
      3. Pentigraf dengan ciri khas cerita tiga paragraf
      4. Cerpen dengan ciri khas lebih kecil dari 7.500 kata
      5. Novelet dengan ciri khas dengan jumlah kata antara 7.500 – 17.500 kata
      6. Novela dengan ciri khas antara 17.500 – 40.000 kata
      7. Novel dengan ciri khas dengan jumlah kata lebih kecil 40.000 kata

Dibawah ini, beberapa contoh bisa dilihat di :

D. Unsur Pembangun Cerita Fiksi.

    1. Tema2. Premis
      3. Alur atau Plot4. Penokohan. Penggambaran sifat tokoh dalam cerita fiksi menggunakan prinsip show don’t tell.5. Latar atau Setting serta sudut pandang. Tentang latar atau setting sebenarnya tidak ada yang baku, tergantung si penulis itu sendiri, tergantung kreatifitas sang penulis.

      E. Kiat Menulis Fiksi

      Dalam menulis fiksi, butuh proses kreatif. Proses kreatif ini yang penting dipahami oleh calon penulis. Proses kreatif menulis puisi dimulai :

      1. Niat Menulis. Niat ini menjadi penting karena sebagai pemantik motivasi untuk segera memulai dan menyelesaikan karya kita.
      2. Banyak membaca fiksi orang lain, tujuannya untuk menemukan ide, bahan belajar, sebagai referensi, pemilihan gaya dan karakteristik menulis.
      3. Ide bisa saja muncul kapan saja, jangan lupa segera catat. Ide bisa dikembangkan dengan imajinasi, sebelum mengembangkan ide, pilih genre yang akan dituju dan paling dikuasai.
      4. Outline adalah kerangka dasar kita dalam menulis fiksi
      5. Ini sisi eksekusi, jika tidak mulai menulis, percuma saja mempelajari teori. Dalam hal menulis yang perlu diperhatikan adalah :
          • Membuka cerita dengan baik
          • Pengenalan tokoh dan latar belakang
          • Menguatkan sisi konflik internal dan Eksternal
          • Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika serta memperkuat imajinasi
          • Memilih susunan kalimat pendek dan jelas
          • Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi)
      6. Swasunting. Merupakan yang dilakukan setelah menulis, ingat jangan menulis sambil mengedit karena memperlambat proses menulis, hal ini pun bisa membuat sisi kreatif menulis bisa hilang, menulislah seperti bercerita. Fokus proses editing kepada kesalahan pengetikan, pilihan kata, aturan penulisam, kesalahan ejaan. Kalau bisa seorang penulis bisa memposisikan dirinya sebagai penyunting artinya berani untuk menyunting tulisan kita sendiri. Dalam proses penyuntingan kita siapkan kamus besar bahasa indonesia dan PUEBI.

        Luar biasa kan materinya, mendapatkan insight baru dalam kegiatan KBMN, kuncinya dalam menulis cerita fiksi adalah jangan pernah ragu untuk menulis, kembangkan imajinasi dalam menulis.

        Salam Literasi : Recky Aprialmi,S.Pd.,M.Pd

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *