Writing By Heart

RESUME Ke-9

 

Tema               : Writing By Heart

Narasumber   : Mutmainah,M.Pd

Moderator      : Widya Arema

Tidak terasa sudah masuk edisi ke-9, malam ini juga bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, semoga di hari Kebangkitan Nasional ini, semangat bangsa indonesia akan pentingnya Literasi juga meningkat.

Seperti biasa di group WA. Pertemuan malam ini, peserta KBMN akan menyimak materi dari narasumber kita yaitu Ibu Mutmainah,M.Pd, biasa dipanggil ibu Emut, Mungkin imut imut kali ya. beliau ini alumni KBMN ke-24. Anggota Tim Solid Om Jay, sudah banyak menghasilkan karya dari KBMN. kegiatan malam di moderator oleh ibu Widya Arema.

Sebelum materi dimulai, ibu Emut mengeluarkan jurus mautnya yakni Puisi yang menggugah hati calon penulis :

ANTARA KITA

Ketika air mata langit turun mencipta genang di pelataran rumah, aku kembali terkenang pada rindu yang lupa jalan pulang

Pada rindu yang mengembara tak tau arah

Pijaran lentera menyala memantulkan cahaya dalam remang, masih saja membayang seraut wajah pada ingatan yang tak ingin hilang

Sesukar ini kah lupa? Setiap kisahnya menjelma rentetan kata

Mencipta rindu pada warna warni rasa

Mestinya tak sulit lupakan segalanya

Jarak yang membentang, bersua yang tak kunjung, hingga tinggalah kenangan

Antara kita …

Terikat dawai persaudaraan

Tak lekang oleh waktu pun ujian

Sesuai dengan judulnya Writing By Heart, Bu Emuth menjelaskan tips menulis dengan hati, setidaknya ada 8 Tips yang harus hadir didalam sanubari seorang penulis.

      1. Libatkan emosi. Yaitu emosi yg positif. Hadirkan hati ketika menulis, rasakan, amati,dengarkan. Jangan menyibukkan diri edit tulisan, mengedit tulisan itu penting namun jadikan sebagai prioritas terakhir ketika menyunting. Kuncinya libatkan emosi, dengan melibatkan emosi maka kita bisa menghasilkan tulisan yang berkarakter sesuai dengan kondisi hati kita. Seolah olah tulisan kita memiliki rasa yang berbeda dengan tulisan orang lain
      2. Libatkan panca indera. Lihat tulisan dibawah ini :

Tiga sahabat itu meringkuk ketakutan. Di tengah samudra biru, mereka terombang-ambing diatas kapal yang sudah lubang sana sini. Tangan mereka terikat jaring dengan kuat, sementara mulut kelu dalam gigil kedinginan.

Dari kejauhan… Sesosok makhluk yang besar semakin mendekati mereka. Makhluk itu sangat besar, tingginya melebihi pohon kelapa. Badannya sebesar gedung tingkat delapan. Surainya mencuat tinggi berwarna keperakan disinari matahari. Entah makhluk apa yang mereka lihat. Matanya yang merah menampakkan amarah. Makhluk itu menghantamkan ekornya dengan kuat. Byuuuurrrr, seketika air laut bergejolak setinggi 30 meter. Baju mereka basah kuyup, rasa dingin bukan masalah terbesar mereka. Tapi tatapan marah ikan itu semakin mendekati mereka. Satu ayunan sirip lagi, akan tiba dihadapan mereka. Ooh bagaimana nasib ketiga sahabat itu selanjutnya?.

Keren kan, dari tulisan diatas, semua pancaindera terlibat, seolah olah orang yang membaca tulisan kita, juga merasakan dan melihat kejadian tersebut.

      1. Menulislah dari apa yang disukai. Mulailah menulis dengan apa yang kita sukai, jadikan itu sebagai passion menulis kita, sehingga kita menulis dari hati tanpa ada paksaan. Selain pengetahuan, perasaan juga harus hadir, sehingga memunculkan pemahaman yang mendalam terhadap apa yang kita tulis. Kalau sudah seperti itu, akhirnya menulis sebagai sebuah seni dalam merangkai kata-kata. Kalau keindahan melukis dilihat dari gambarnya, maka keindahan menulis dilihat dari rangkaian kata-kata yang lebih bersifat otentik, memilki ciri khas dari penulis itu sendiri.
      2. Jauhkan diri dari pujian. Luruskan niat untuk apa kita menulis, paling baik itu kita menulis untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan berharap pujian orang lain. Umumnya orang yang selalu berharap pujian, jika karya nya miskin pujian maka dia akan malas berkarya.
      3. Who dan do. Dalam menulis indentifikasi terlebih dahulu target pembaca, jika untuk remaja maka posisikan kita sebagai remaja. Hal ini terkait dengan gaya tulisan, gaya bahasa, tema yang digandrungi remaja. Begitu juga untuk hal lainya, ini namanya Who. Sedangkan untuk Do, pesan atau informasi apa yang ingin kita sampaikan kepada si pembaca. Sesuaikan dengan level pembaca tulisan kita.
      4. Read and Read. Seorang penulis harus rajin membaca bahkan jadikan aktivitas membaca sebagai hobi, ingat kata Om Jay, membaca itu saudara kembarnya menulis. Membaca membuat kita kaya dengan gagasan, kaya dengan wawasan, kaya dengan infromasi. Dan yang terpenting dengan membaca, seorang penulis kaya dengan bahan menulis.
      5. Kedepankan sikap jujur, karena menulis tidak bisa berbohong, orang yang akan membaca pasti akan menvalidasi tulisan kita. Tulisan juga menggambarkan isi hati dari si penulis.
      6. Ini yang paling susah dilakukan, seorang penulis harus istiqomah dengan jalan yang telah dilaluinya. Tantangan dan halangan itu pasti ada. Agar konsisten seorang penulis harus menetapkan tujuan yang jelas dalam menulis.

Selanjutnya, bunda emut menjelasakan, apa manfaat menulis dengan hati, ada 3 manfaat besar menulis dengan hati, antara lain :

      1. Lebih menyentuh pembaca. Aktivitas menulis dengan melibatkan hati, luapan emosi akan lebih mengggugah pembaca. Menulis menggunakan hati maka kita sebenarnya sedang merangkai kalimat dengan kata-kata. Apalagi menulis dengan menggunakan emosi yang positif pasti akan menghasilkan kalimat yang menarik bagi pembaca.
      2. Tulisan seolah memiliki nyawa. Sering membaca novel berkualitas, bahkan sampai di filmkan. Jika kita baca seolah olah tulisan memiliki ruh nya sendiri, membuai para pembaca, sangat menghanyutkan bahkan bisa mempengaruhi emosi seseorang.
      3. Mudah menyusun cerita. Menulis dengan hati akan mengurangi penyakit writer block. Karena menulis dengan hati melibatkan panca indera, melibatkan rasa serta emosi positif sehingga banyak ide ide segar yang akan keluar sebagai bahan menulis.

Dibawah ini 2 contoh dari kalimat menulis dengan melibatkan hati dengan yang tidak melibatkan hati.

      • Hari ini hujan turun dengan lebat. Budi sang penjual koran duduk kedingian di trotoar dengan menahan rasa lapar.
      • Awan mendung terlihat menghitam, suara tetesan hujan semakin menderas. Sesekali terdengar cahaya kilat dan suara petir memekakkan telinga. Si budi kecil penjual koran, menggigil dalam beku. Matanya perih menahan tetesan hujan. Mulutnya membiru, seakan membeku. tangan dan kakinya kelu dan lunglai menahan lapar seharian. Tuhan berikan rezeki untuk bisa kumakan hari ini pintanya syahdu memandang awan kelabu.

Dari  2 contoh diatas, tulisan yang b lebih menyentuh hati dengan tulisan yang a. bagaimana jelas kan perbedaannya.

Terakhir, narasumber menjelaskan, jika lancar menulis maka tinggalkan semua teori menulis, untuk apa mengusai teori menulis, kalau tidak langsung eksekusi menulis. Mulailah menulis dengan hati agar mempengaruhi jiwa pembaca.

Salam Literasi : Recky Aprialmi,S.Pd.,M.Pd

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *