RESUME Ke-23
Tema : Mengatasi Writer’s Block
Narasumber : Ditta Widya Utami,S.Pd.,Gr
Moderator : Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr.,M.Pd
Rabu malam tepatnya tanggal 10 Juli 2024, kegiatan KBMN kembali bergulir, masuk pertemuan ke-23. Materi yang disampaikan sangat penting yaitu “Mengatasi Writer’s Block”. Narasumber malam ini adalah bu Ditta Widya Utami,S.Pd.,Gr. Di moderatori oleh pak Edmu Yulfizar Abdan Syakura,Gr.,M.Pd. profil narasumber bisa dilihat langsung pada blog beliau di alamat : https://s.id/cvdittawidyautami
Sebelum memberikan materi, narasumber memberikan beberapa pertanyaan, yaitu :
-
-
- Pernahkah Ibu/Bapak menulis diary saat kecil/remaja?
- Pernahkah Ibu Bapak menerbitkan buku?
- Apa yang biasanya Ibu Bapak tulis (baik yang sudah dipublish di blog/buku/masih di laptop/buku catatan)?
-
Writer’s Block
Istilah Wiriter’s block muncul di tahun 1940-an yang dikenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, psikoanalis Amerika). Sampai saat ini banyak penulis yang masih terserang Writers Block (sebut WB) merupakan keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya (Wikipedia). Parahnya, tak hanya hitungan detik, menit atau jam, WB ini bisa melekat berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bisa jadi tahunan.
Beberapa Penyebabnya?
Ada banyak faktor seperti tidak ada ide, sibuk, gak mood menulis, sedang banyak pikiran, dll.
Cara Mengatasinya?
Bagi yg lelah fisik, misalnya, mungkin Ibu dan Bapak bisa untuk memilih rehat sejenak, healing terlebih dahulu, melakukan mindfullness, atau aktivitas lain yg bisa membantu Ibu Bapak lebih “segar” sehingga siap untuk kembali menulis.
Bagi Ibu Bapak yg belum ada ide, alternatif yang bisa dilakukan pergi ke perpustakaan, membaca artikel/buku, atau melakukan hal lain yg bisa memancing ide menulis keluar.
Jika kita merasa tulisan belum sempurna, kita bisa meminta teman dekat untuk mengoreksi terlebih dahulu. Meminta masukan sehingga Ibu Bapak bisa melakukan revisi dan akhirnya menerbitkan tulisan.
Bagi yang sedang sibuk, Ibu Bapak mungkin akan mencari waktu terbaik (gold time) menulis dan meluangkan waktu walau sejenak untuk tetap menulis. Bagi yang sedang sibuk, Ibu Bapak mungkin akan mencari gold time-nya menulis dan meluangkan waktu walau sejenak untuk tetap menulis.
Yang sedang tidak mood untuk menulis, bisa jadi mencari moodbooster dulu. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah memberikan tantangan untuk diri pribadi kita dalam meningkatkan mood kita dalam menulis, misalnya memberikan berbagai tantangan untuk membuat kalimat, salah satu contohnya ;

Buatlah 1 paragraf berdasarkan gambar di atas.
Pasti bisa kan ? tulisan yang dibuat setiap kita pasti berbeda-beda satu sama lainnya.
Dari berbagai tantangan tersebut, ternyata kita antusias bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Hal itu merupakan cara termudah dalam mengatasi writer’s block. Saat itu terjadi, kita bisa melihat sekeliling sejenak, fokus di satu benda, lalu menjadikannya sebuah tulisan. Atau kita bisa kembali menajamkan indera kita, melihat hal-hal sederhana seperti jepit jemuran yang bisa jadi ada di setiap rumah namun ternyata bisa menjadi ide tulisan. Kuncinya adalah NIAT.
Ketika memastikan menjadi penulis, saat itu juga kita harus siap untuk konsisten (meluangkan waktu untuk menulis sesuai kesanggupan masing-masing). Siap untuk belajar dan dikritik (karena karya kita bisa jadi buah bibir orang lain, mendapat kritikan, masukan/saran dll yang mendorong kita untuk terus belajar dan belajar lagi ilmu kepenulisan dll). Menjadi penulis juga harus siap ditolak. Ditolak penerbit, ditolak panitia lomba/seleksi, ditolak redaksi, dll.
Menjadi penulis harus siap untuk menjadi unik, karena tak kan ada Ahmad Tohari kedua. Tak kan ada Andrea Hirata kedua. Tak kan ada Omjay kedua. Masing-masing memiliki keunikan. Kita pun pasti punya.
Niat, Komitmen, Percaya Diri, Konsisten. Berkaryalah !
Salam Literasi : Recky Aprialmi,S.Pd.,M.Pd